Sekolah dan Pengalaman Pendidikan: Bekal Hidup yang Tak Tergantikan

Sekolah Lebih dari Sekadar Tempat Belajar

Bicara soal sekolah, yang terlintas di pikiran biasanya adalah buku pelajaran, tugas, ujian, dan rapor. Tapi, kalau dipikir lebih dalam, sekolah sebenarnya adalah tempat pertama di mana kita mengenal dunia luar, membangun karakter, dan belajar banyak hal yang tidak selalu tertulis di papan tulis.

Di situlah kita mulai belajar bagaimana bersosialisasi, bekerja dalam tim, menghadapi konflik, dan memahami arti tanggung jawab. Semua ini menjadi bagian dari pendidikan yang tidak bisa diukur hanya dengan angka nilai.

Pelajaran dari Pengalaman, Bukan Hanya dari Buku

Ada banyak hal yang bisa kita pelajari di luar pelajaran Matematika atau Bahasa Indonesia. Misalnya, https://www.maestravidasthlm.com/ saat ikut lomba mewakili sekolah, kita belajar arti usaha dan sportivitas. Saat dimarahi guru karena lupa PR, kita belajar soal disiplin. Saat bertengkar dengan teman lalu berdamai, kita belajar tentang komunikasi dan memaafkan.

Semua kejadian itu mungkin terasa sepele saat terjadi, tapi tanpa kita sadari, pengalaman-pengalaman kecil seperti itulah yang membentuk cara kita berpikir dan bersikap ketika dewasa.

Guru, Teman, dan Lingkungan yang Membentuk Kita

Tidak bisa dipungkiri, guru memegang peran besar dalam pengalaman pendidikan kita. Ada guru yang tegas tapi perhatian, ada yang humoris dan jadi favorit murid. Gaya mengajar dan cara mereka memperlakukan siswa seringkali meninggalkan kesan yang membekas hingga kita dewasa.

Selain guru, teman sekolah juga menjadi bagian penting dalam proses belajar. Dari mereka, kita belajar kerja sama, berbagi, bahkan kadang belajar menghadapi perbedaan pendapat. Lingkungan sekolah secara keseluruhan ikut membentuk kepribadian dan cara kita memandang dunia.

BACA JUGATeknologi AR/VR: Lab Virtual untuk Sekolah Terbatas

Sekolah Adalah Awal dari Banyak Hal

Banyak orang sukses yang menemukan jalan hidupnya justru dari pengalaman di sekolah. Entah itu karena mengikuti ekstrakurikuler, ikut kompetisi, atau karena dorongan seorang guru. Sekolah sering kali menjadi tempat pertama seseorang mengenal minat dan bakatnya.

Misalnya, seorang siswa yang senang menulis di majalah dinding sekolah bisa tumbuh menjadi jurnalis. Atau siswa yang hobi menggambar saat istirahat, kelak bisa jadi desainer grafis ternama. Semua berawal dari pengalaman kecil yang terjadi di bangku sekolah.

Pengalaman pendidikan di sekolah tidak hanya meninggalkan kenangan, tapi juga bekal hidup yang penting. Apa yang kita pelajari di sana—baik dari buku maupun dari pengalaman sehari-hari—ikut membentuk siapa diri kita hari ini.

Maka dari itu, sekolah seharusnya tidak hanya fokus pada nilai akademis, tapi juga membangun suasana yang mendukung tumbuh kembang karakter. Karena pada akhirnya, pendidikan terbaik adalah yang bisa menjadikan seseorang tidak hanya cerdas, tapi juga bijak dan berempati.

Sekolah Negeri di Solo Masih Kekurangan 300 Guru di Semua Jenjang

Kota Solo Kekurangan Sekitar 300 Guru, Dinas Pendidikan Andalkan Guru Kontrak dan Pemerataan

Dinas Pendidikan Kota Solo menyatakan bahwa sekolah-sekolah negeri di jenjang TK, SD, dan SMP saat ini masih menghadapi kekurangan tenaga pengajar. Kepala Dinas Pendidikan Kota Solo, Dian Rineta, memperkirakan total kekurangan guru mencapai sekitar 300 orang di semua jenjang pendidikan.

“Kekurangan ini tidak hanya terjadi pada guru kelas, tapi juga mencakup berbagai mata pelajaran,” ujar Dian saat ditemui di Balai Kota Solo pada Jumat (19/5/2023).

Dian menjelaskan, salah satu penyebab utama slot jepang kekurangan guru adalah ketidakseimbangan antara jumlah guru yang keluar—karena pensiun atau meninggal dunia—dan jumlah guru baru yang masuk. “Proses pengadaan guru tidak mampu mengimbangi laju pengurangan guru setiap tahunnya,” katanya.

Untuk mengatasi kekosongan tenaga pengajar tersebut, pihaknya telah mengambil beberapa langkah alternatif. Salah satunya adalah dengan merekrut guru Tenaga Kerja dengan Perjanjian Kontrak (TKPK) serta melakukan redistribusi guru antar sekolah.

“Kami mengisi kekurangan guru dengan tenaga TKPK. Selain itu, penyebaran guru juga diratakan. Misalnya, di SMP A dibutuhkan tiga guru Bahasa Indonesia, tapi kami alokasikan dua dulu di sana, dan satu guru kami tempatkan di sekolah lain yang juga membutuhkan,” jelas Dian.

Langkah tersebut diambil agar kegiatan belajar mengajar tetap bisa berjalan dengan baik sambil menunggu tambahan formasi guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) dari pemerintah pusat.

Baca JugaMenyelami Inovasi di Green School Bali: Pendidikan Berbasis Alam untuk Masa Depan

Dian juga menyebutkan bahwa kebutuhan guru di tiap sekolah berbeda, tergantung pada jumlah rombongan belajar (rombel) yang dimiliki masing-masing sekolah.

Senada dengan itu, Kepala SMP Negeri 7 Solo, Siti Latifah, mengungkapkan bahwa sekolahnya masih mengalami kekurangan guru untuk beberapa mata pelajaran, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes).

“Kami masih kekurangan guru di beberapa mapel,” ujar Siti kepada Espos.id pada hari yang sama.

Untuk menjaga kelangsungan kegiatan belajar mengajar (KBM), Siti menjelaskan bahwa beban mengajar guru-guru yang ada ditambah, dengan membagi jam pelajaran antar pengajar. Hal ini membuat durasi mengajar per guru meningkat secara signifikan.

“Yang biasanya mengajar 24 jam pelajaran per minggu, sekarang bisa sampai 38 jam,” tutupnya.